Kamis, 16 Februari 2012

KEBANGUNAN DAN REFORMASI DALAM PERNIKAHAN


KEBANGUNAN DAN REFORMASI DALAM PERNIKAHAN
Oleh Pedro Iglesias

Pendahuluan:
Ketika Saya masih kecil, Saya biasa pergi keluar bersama teman-teman tetangga Saya ke lapangan untuk berburu burung. Ketika kami keluar bersenjatakan ketapel, burung-burung kecil itu berada dalam bahaya. Kami biasa melakukannya untuk bisnis dan untuk kesenangan. Jika untuk bisnis, kami berusaha untuk tidak terlalu menyakiti burung itu. Burung itu harus jatuh ke tanah hidup-hidup. Sulit untuk memperkirakan agar tidak membunuh burung itu. Ketika kami menemukan burung itu hampir mati, kami akan berjalan dan mengambilnya dan menggunakan metode yang sangat populer untuk menghidupkan burung itu kembali. Burung itu akan ditaruh di bawah ember, kemudain kami mengetuk bagian atasnya untuk menghasilkan kebisingan. Setelah ini kami akan melihat ke bawah ember untuk melihat bagaimana keadaan "pasien" kami. Jika burung itu tidak bereaksi, kami mengulangi proses yang sama sampai berhasil. Proses ini sering kali berhasil. Tidak ada penjelasan ilmiah untuk hal itu. Namun, itu adalah cara yang bagus untuk membangkitkan yang telah "mati". Tentu saja burung tersebut sejak hari itu beruntung bersama Saya, karena Saya tidak memiliki tujuan yang baik.
Tidak hanya burung yang perlu dihidupkan kembali ketika mereka hampir mati. Sebagai orang Kristen kita berbicara tentang perlunya kebangunan rohani. Burung-burung, orang-orang Kristen, dan pernikahan, membutuhkan kebangunan rohani.
Gereja Advent telah memulai sebuah program baru, kebangunan rohani dan reformasi dari setiap anggota gereja. Ajakan untuk kebangkitan mempengaruhi integritas hidup manusia. Kehidupan pernikahan tidak luput dari realitas ini.
Tujuan dari seminar ini adalah untuk mengajak para peserta bergabung dengan program kebangunan rohani jemaat dan memperpanjang manfaat bagi pernikahan mereka masing-masing.

Kebangunan Rohani Adalah Keharusan

Selama kemurtadan kerajaan Yehuda, Nabi Habakuk bernubuat. Dalam tahun SM 612-586 tahun, empat raja terakhir Yehuda telah menjadi jahat. Pemerintahan mereka ditandai dengan sering lupa dan penolakan terhadap Allah. Masa itu penuh anarki, tidak bermoral, penganiayaan dan kekerasan. Babel menjadi kekuatan yang menakutkan dan Yehuda akan segera jatuh di bawah kuk penindasannya. Nabi Habakuk tidak mengerti mengapa Allah tidak ikut campur tangan. Ia segera menyadari bahwa adalah lebih baik untuk selalu bergantung pada Allah, yang berada pada kemudi, dan mengemudikan nasib umat-Nya.
Di tengah keadaan ini Habakuk berdoa kepada Allah: "TUHAN, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya TUHAN, kutakuti! Hidupkanlah itu dalam lintasan tahun, nyatakanlah itu dalam lintasan tahun; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!" (Habakuk 3:2). Kita harus meminta Allah untuk melakukan pekerjaan yang diperlukan untuk menyelamatkan umat-Nya. Kata menghidupkan kembali, menyarankan untuk hidup kembali,  menyadarkan, memulihkan kesehatan, datang , atau bangun.
Hari ini, sebagai anggota tubuh Kristus kita harus meminta Allah membangunkan kita untuk melakukan pekerjaan yang Ia telah percayakan kepada kita. Ellen White menulis: "Meskipun demikian penafsiran iman dan kesalehan yang meluas, ada juga pengikut sejati Kristus dalam gereja-gereja. Sebelum penghakiman Allah terhadap bumi akan terjadi di antara umat Tuhan seperti kebangkitan kembali kesalehan masa lalu yang belum pernah disaksikan sejak zaman rasul-rasul." (1888, hal.464). Ini merupakan janji menggembirakan yang menegaskan tujuan Allah untuk memberikan kebangunan rohani yang demikian yang mengarah kepada persiapan penuaian terakhir. Konsep kebangunan rohani harus jelas. Sebuah penjelasan yang baik adalah: "Kebangunan rohani menandakan pembaruan kehidupan spiritual, percepatan dari kekuatan pikiran dan hati, kebangkitan dari kematian rohani." (White, 1986, hal.128).

Aktivitas

Berbagilah dengan orang di sebelah Saudara praktek-praktek perbaktian yang bisa membantu memberikan kebangunan rohani di jemaat?


Aktivitas Bersama Jemaat Secara Umum 

Bagi hadirin menjadi beberapa kelompok, Mintalah orang yang hadir untuk berbagi dengan orang di dalam kelompok mereka praktek kebaktian yang bisa menolong memberikan kebangunan rohani di jemaat?  Catat dan bagikan jawaban kepada semua orang.

Tulislah daftar jawaban kelompok:
  1. ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  2. ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  3. ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 Kebangunan Dimulai Di Rumah

Mencari kebangunan rohani di antara anggota gereja tidak harus menjadi masalah pribadi. Keluarga, yang merupakan bagian penting dari gereja, haruslah diperhitungkan. Pekabaran Nabi Maleakhi janji-janji reformasi dalam hubungan keluarga sebelum Kristus kembali: Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah (Maleakhi 4:5, 6).
 Ellen White menyarankan: "Gerakan reformasi yang besar harus dimulai di rumah." (1954, hal 489)
 Agar reformasi ini terjadi, tentu saja kita akan membutuhkan kebangunan rohani.

Aktivitas Keluarga

Bekerja samalah pada kegiatan-kegiatan berikut:
  • Tulis sebuah daftar aktivitas-aktivitas spiritual yang tidak Saudara latih lagi.
  • Pilih suatu kegiatan yang sudah ditinggalkan dan buatlah keputusan untuk menghidupkannya kembali.
  • Bagikan ide-ide Saudara kepada orang lain.

Aktivitas Bagi Keluarga-Keluarga

  1. Pada abad permulaan Ellen White mendesak jemaat-jemaat untuk pergi ke rumah-rumah, berdoa, dan memberikan pelajaran Alkitab. Undangan untuk menerima pekabaran tersebut harus diberikan kepada setiap keluarga. Baca komentar berikut: "Banyak orang mungkin bekerja di kota-kota dan kota-kota besar, mengunjungi dari rumah ke rumah, berkenalan dengan keluarga, masuk ke dalam kehidupan sosial mereka, makan di meja mereka, masuk ke dalam percakapan di dekat api unggun mereka, sambil menaburkan benih berharga --  kebenaran --  sepanjang hari" (White, 1897, hlm 274).

Mintalah setiap keluarga untuk bekerja sama dalam aktivitas-aktivitas berikut:
o    Tulislah suatu daftar aktivitas rohani yang Saudara tidak praktekkan lagi, seperti perbaktian keluarga.
o    Pilihlah suatu aktivitas yang sudah ditinggalkan dan buatlah keputusan untuk menghidupkannya kembali.

  • Bagikan ide-ide Saudara dengan orang lain.


Pernikahan Yang Dibangun Kembali

Kebangunan rohani adalah masalah pribadi. Apakah kita berharap untuk melihat seluruh jemaat dibangunkan kembali? Waktu itu tidak akan pernah datang. Ada orang-orang di gereja yang belum bertobat, dan yang tidak akan bergabung dengan doa yang sungguh-sungguh. Kita harus memasukkannya pada pekerjaan secara pribadi. (White, 1986, hal.122).

Meskipun kebangunan itu bersifat pribadi, pasangan menikah harus bersatu untuk mencari pengalaman seperti itu. Pasangan perlu membuat ide ini menjadi prioritas.

Ide-Ide Untuk Memiliki Suatu Pernikahan Yang Terhubung Ke Surga
  1. Doa
  2. Mempelajari Alkitab – Aktivitas Bersama Keluarga Jemaat
  3. Mintalah Bantuan Roh Kudus
  4. Meditasi Pada Kehidupan Kristus

  1. Doa

Ellen White menyatakan, "Kasih sayang tidak bisa langgeng, bahkan dalam lingkaran rumah tangga, kecuali ada kesesuaian kehendak dan pengaturan kepada kehendak Allah. Semua kecakapan dan keinginan harus dibawa selaras dengan sifat-sifat Yesus Kristus. Jika ayah dan ibu berada di dalam kasih dan takut akan Allah mempersatukan kepentingan mereka untuk memiliki otoritas di dalam rumah tangga, mereka akan melihat perlunya banyak berdoa, banyak cerminan ketenangan. Dan ketika mereka mencari Allah, mata mereka akan terbuka untuk melihat utusan surgawi datang melindungi mereka dalam menjawab doa iman mereka. Mereka akan mengatasi kelemahan karakter mereka dan menuju kepada kesempurnaan" (1956, hal. 316).
           Berkat telah dijanjikan kepada suami dan istri yang mencari inspirasi di dalam Kristus, dan menggunakan doa sebagai alat.

Kembangkan rencana doa bersama sebagai suatu pasangan. Sebagai contoh:
Rencana Doa Pasangan:
  • Berdoalah bersama-sama.
  • Miliki daftar dengan permintaan-permintaan doa khusus.
  • Buatlah kebutuhan spiritual merupakan bagian penting setiap hari.
  • Berdoalah bagi pasangan menikah lainnya.
  • Mintalah pasangan lain untuk sesi doa.

Rencana Studi Alkitab Pasangan / Keluarga:
  • Bacalah Alkitab bersama-sama.
  • Pelajari bersama-sama apa yang Alkitab katakan tentang pernikahan.
  • Pelajaru Alkitab bersama pasangan menikah yang non-Advent.
  • Bacalah bersama-sama buku Roh Nubuat: Kemenangan Akhir, Rumah Tangga Advent, Steps To Christ.


Senin, 13 Februari 2012


Sambungan.....................................
Ulangi sekilas ringkasan pelajaran yang lalu.

Ide-Ide Untuk Memiliki Suatu Pernikahan Yang Terhubung Ke Surga
  1. Doa
  2. Mempelajari Alkitab – Aktivitas Bersama Keluarga Jemaat
  3. Mintalah Bantuan Roh Kudus
  4. Meditasi Pada Kehidupan Kristus


  1. Mempelajari Alkitab – Aktivitas Bersama Keluarga Jemaat

Tanyakan: Mengapa mempelajari firman Allah berkontribusi bagi kebangunan rohani?

Pasangan harus mengembangkan rencana studi Alkitab bersama-sama:
  • Bacalah Alkitab bersama-sama dalam satu tahun.
  • Pelajari bersama-sama apa yang Alkitab katakan tentang pernikahan.
  • Pelajari Alkitab dengan pasangan menikah yang non-anggota.
  • Bacalah bersama-sama setiap Buku Roh Nubuat, seperti: Rumah Tangga Advent, Mendidik Dan Membimbing Anak atau Steps To Christ.
  • Beli sebuah buku Roh Nubuat dan berikan sebagai hadiah kepada pasangan yang menikah.
 
  1. Mintalah Bantuan Roh Kudus

Untuk memperoleh kebangunan rohani kita membutuhkan banyak kuasa. Sebuah kebangunan yang berasal dari Roh Kudus tidak dapat diwujudkan dengan hanya melatih kehendak manusia. Kebangunan rohani membutuhkan suatu kekuatan superior untuk menjadi milik kita. Kita harus memahami kekuatan ini akan kita miliki jika kita memintanya.

Turunnya Roh Kudus ke atas jemaat dinantikan di masa mendatang; tetapi itu adalah hak istimewa jemaat untuk memperolehnya sekarang. Carilah hal itu, berdoalah untuk hal itu, percaya akan hal itu. Kita harus memilikinya, dan Surga sedang menunggu untuk melimpahkannya. (White, 1895, hal. 2; 1946, hal. 701)

  1. Meditasi Pada Kehidupan Kristus

Sebuah kutipan terkenal yang diinspirasi oleh Allah mengajak kita untuk merenungkan Yesus, kehidupan dan pekerjaan-Nya sementara Dia berada di bumi. "Adalah baik bagi kita untuk menghabiskan satu jam setiap hari untuk merenungkan kehidupan Kristus. Kita harus mengambil poin demi poin, dan membiarkan imajinasi menangkap setiap pemandangan, terutama bagian penutup. Sehingga, sementara kita memikirkan pengorbanan-Nya yang besar bagi kita, kepercayaan kita kepada-Nya akan lebih tetap, kasih kita akan dipercepat, dan kita akan lebih mendalam diilhami dengan roh-Nya. Jika kita hendak diselamatkan, setidaknya kita harus mempelajari pelajaran dari penyesalan dan penghinaan di kaki salib itu." (White, 1940, hal. 80).

Merenungkan kehidupan Yesus akan menghubungkan kita dengan surga dan akan menghidupkan kembali kasih kita kepada Allah. Pasangan harus datang bersama-sama dan bekerja pada sebuah rencana untuk merenungkan kehidupan Kristus.
  • Setiap hari bacalah satu atau dua bab dari Injil.
  • Bacalah bersama-sama Buku Kerinduan Segala Zaman atau Christ’s Object Lessons.
  • Bicarakan tentang berkat-berkat yang Saudara terima melalui pengalaman Saudara bersama Yesus Kristus.

Jika kedua suami dan istri hendak bersatu dengan kerendahan hati dan tekad untuk terhubung dengan Allah, jika mereka terus-menerus berdoa, jika mereka mempelajari firman Allah sesuai dengan metodenya, jika mereka meminta pengurapan Roh Kudus setiap harinya, dan jika mereka merenungkan kehidupan Yesus dan membuatnya sebagai suatu kebiasaan, janji-Nya akan digenapi dalam hidup mereka.

Kebangunan Rohani Pernikahan Menghasilkan Reformasi Pernikahan
Kebangunan rohani pernikahan mengubah pengalaman yang memperkaya pernikahan. Tentu saja, setiap pasangan perlu menyerahkan keinginannya pada tangan Allah, dan mematuhi perintah-perintah Allah.
Pada poin ini merupakan ide yang baik untuk membaca kembali definisi dari kebangunan rohani tersebut: "Kebangunan rohani menandakan pembaruan suatu kehidupan spiritual yang diperbaharui, percepatan dari kekuatan pikiran dan hati, kebangkitan dari kematian rohani. (White, 1986, hal. 128)
Mengalami kebangunan rohani akan menghasilkan reformasi dalam diri individu, dan dalam pernikahan mereka. Keduanya digabungkan dengan kuatnya. Ellen White menyatakan: "Kebangunan rohani dan reformasi adalah untuk melakukan pekerjaan mereka yang telah ditentukan, dan dalam melakukan pekerjaan ini mereka harus berbaur. (White, 1902, hal.1; 1986, hal.128)
Tapi, apa arti dari kata reformasi itu? Reformasi berarti reorganisasi, perubahan ide-ide, teori-teori, kebiasaan-kebiasaan, dan praktek-praktek. Reformasi tidak akan menghasilkan buah yang baik kecuali jika hal itu berkaitan dengan kebangunan kembali oleh Roh. Dalam berbagai waktu selama pernikahan, kehidupan dapat menjadi kacau. Perubahan tahap-tahap kehidupan pernikahan membuat hal itu perlu untuk terus-menerus ditata kembali.

Aktivitas Bersama Semua Orang
Bagikan kertas pada setiap orang yang hadir dan mintalah mereka untuk menuliskan perubahan yang harus terjadi dalam kehidupan mereka sebagai hasil dari kebangunan rohani.

Saudara harus memiliki semua kutipan Roh Nubuat yang tercetak di atas dan siap untuk dibagikan.
Perubahan ide _________________________________________________________
Perubahan teori ________________________________________________________
Perubahan kebiasaan ____________________________________________________
Perubahan dalam praktek  ________________________________________________

Aktivitas Pasangan / Aktivitas Bersama Para Pasangan
Mintalah pasangan yang sudah menikah untuk bekerja dengan pasangan masing-masing dan mendiskusikan perubahan apa yang perlu dilakukan dalam pernikahan mereka masing-masing.
Setelah selesai, mintalah setiap pasangan menikah, dan masing-masing individu yang hadir untuk berdoa dan meminta Allah menolong mereka dengan perubahan apa pun yang harus terjadi dalam kehidupan mereka.

Memahami Perubahan
  • Perubahan itu tidaklah mudah.
  • Teguhkan dan dukung perubahan dalam diri pasangan Saudara.
  • Ingatlah bahwa perubahan itu merupakan hasil dari hubungan kita dengan Allah.

Perubahan Itu Tidaklah Mudah

Perubahan itu tidaklah mudah. Banyak perubahan yang didiskusikan dan ditulis di atas harus dilakukan dengan kebiasaan dan praktek-praktek yang membantu pembentukan karakter yang baik.

Berpikir tentang perlunya mengubah boleh jadi banyak mengecewakan. Namun, Ellen White mengingatkan kita: "Kristus tidak memberikan kepada kita jaminan bahwa untuk mencapai kesempurnaan karakter merupakan hal yang mudah. . . Sebuah karakter yang mulia diterima oleh upaya individu melalui jasa dan kasih karunia Kristus" (White, 1941, hal.331).
Adalah baik untuk menekankan bahwa untuk mengalami perubahan, kita perlu memiliki usaha individual, serta kasih karunia Kristus.
 

Teguhkan Dan Dukung Perubahan Dalam Diri Pasangan Saudara
Pasangan perlu saling mendukung dalam upaya mereka untuk berubah. Rasanya menyenangkan memiliki dukungan dari orang yang kita cintai. Seringkali hal ini tidak terjadi. Seorang pasangan mungkin memutuskan untuk mengubah suatu kebiasaan dan yang lain akan mensabotase inisiatif tersebut atau menunggu sampai ada suatu penyakit yang terulang kembali, kemudian akan membuat pernyataan seperti: "Aku tahu engkau tidak akan mampu melakukannya".
Kami mengajak Saudara untuk saling mendukung dalam upaya Saudara untuk bertumbuh dan mengadakan reformasi. Salomo yang bijaksana menyatakan: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi  wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkhotbah 4:9-10)
                Ingatlah perubahan merupakan hasil dari hubungan kita dengan Allah. Ellen White menyatakan: "Ini bukan kuasa manusia, tetapi kuasa Ilahi yang mengerjakan perubahan karakter." (White, 1911,  hal 274).

Kesimpulan
"Ini bukan kuasa manusia, tapi kuasa Ilahi kuasa yang mengerjakan perubahan karakter." (White, 1911, hal. 274).
Ketika gereja mendorong kebangunan setiap anggota, pasangan harus saling mendukung sehingga tidak ada anggota atau pasangan yang akan kehilangan berkat-berkatnya.
Ketika itu terjadi, bukan hanya jemaat yang akan direformasi, tetapi pernikahan-pernikahan di dalam jemaat juga akan mengalami reformasi.

BURUNG KENARI


Khotbah Singkat untuk Anak:

BURUNG KENARI
Oleh Lidia Stolyar

Bantuan Visual Yang Dianjurkan: Seekor  burung  kenari mainan atau burung kenari berwarna kuning dan
       sebuah sangkar burung.

Ketika Luda berumur dua belas tahun, ia mendapat sebuah hadiah. Seekor burung kenari! Dia sangat bahagia! Dia menghabiskan waktu sepanjang hari di dekat sangkar bersama burung yang bernyanyi untuknya. Luda menamai burung itu Dick.
Luda berpikir kasihan sekali membiarkan burung kenari itu di dalam sangkar sepanjang waktu sehingga kadang-kadang ia membiarkannya terbang. Tapi suatu hari, burung itu terbang ke luar jendela dan tidak pernah kembali ke sangkarnya. Hal ini membuat Luda sangat sedih. Luda terus mencari Dick. Dia mencari di mana-mana, tetapi sia-sia. Dick tidak ditemukan
Suatu pagi seorang tetangga yang tahu tentang kehilangan itu, memanggil Luda dan mengatakan bahwa dia pikir dia mungkin tahu di mana Dick berada. Dia membawa Luda ke sumur. Mereka datang ke bibir sumur itu dan melongok ke dalamnya. Di dalam sumur itu gelap dan dingin.
"Dengar!" Kata si tetangga. Luda mendengarkan dan terdengar suara yang lemah "tweet-tweet!"
"Itu Dick! Dia ada di sini! Kita harus menyelamatkan dia!" Luda menangis dan berlari mendapatkan ayahnya.
"Ayah, Dick ada di dalam sumur itu! Maukah Ayah membantu Saya mengambilnya?"
"Saya pikir ini mustahil." Kata ayah Luda, "Saya tidak memiliki tangga yang cukup panjang untuk mencapai Dick."
"Tapi Ayah tidak bisa meninggalkan Dick di sumur! Ayah, izinkan Saya masuk ke dalam timba dan Saya bisa mendapatkan dia! Luda menangis."
"Kamu tidak bisa, Sayang! Ini terlalu berbahaya," kata ayahnya.
"Tapi kita harus mencobanya!" Desak Luda. "Kita harus mencoba untuk menyelamatkan Dick."
Dia terus mencoba membujuk ayahnya. Akhirnya ayahnya pergi bersamanya ke sumur itu.
"Apakah kamu yakin bisa melakukannya?" Tanya ayahnya.
"Ya, ya! Saya bisa melakukannya. Apakah Ayah dengar? Dick sedang memanggil Saya!"
Luda masuk ke dalam ember. Ayahnya mengikat dengan erat putrinya dengan tali ke ember itu sehingga dia tidak akan terjatuh keluar dari ember itu, lalu kemudian dengan hati-hati dia menurunkan ember yang berisi putrinya  itu ke dalam sumur tersebut.
"Dick! Dick! Panggil Luda. Akhirnya dia melihat burung yang sedang mencengkeram sisi sumur. Dia mengulurkan tangan dan meraih burung itu.
"Saya mendapatkan Dick, Ayah! Angkat Saya!"
Dengan hati-hati dan tangan gemetar, Ayah menarik mereka ke sinar matahari. Betapa dia mengagumi gadis yang berani itu! Dia memeluk dan menciumnya.
"Kamu takut? sang Ayah bertanya. "Tentu saja tidak, Ayah! Saya tahu Ayah memegang talinya.
"Sangat menyenangkan bahwa kamu mempercayai Ayah. Ayah ingin kamu mempercayai Bapa Surgawi kita seperti kamu mempercayai Ayah.”
Allah selalu menjaga kita dengan kuat di tangan-Nya, sehingga kita dapat mempercayai-Nya apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita. Dia tidak akan pernah mengecewakan kita.
Berdoa: Ya Yesus, terima kasih karena telah mengasihiku dan burung-burung yang kecil ini. Bantulah aku  untuk  mempercayai-Mu  dengan  segenap  hatiku dan mengingat bahwa aku selalu dapat bergantung pada-Mu  untuk pertolongan. Amin.

MUJIZAT DALAM PERNIKAHAN Oleh Willie dan Elaine Oliver


Ayat: Yohanes 2:1-10

Pendahuluan

Pernikahan adalah lembaga pertama yang didirikan Allah pada saat penciptaan. Pada akhir hari itu, "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam." (Kej 1:31).

Meskipun menjadi lembaga pertama yang didirikan oleh Allah pada penciptaan, dan dinyatakan sangat baik oleh Allah alam semesta, pernikahan itu sulit. Tentu saja, segala sesuatu yang Allah minta untuk kita  lakukan itu sulit, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23).

Kebanyakan pasangan menikah yang memiliki pernikahan yang relatif baik, dapat bersenang-senang. Namun, ide mereka untuk bersenang-senang tidaklah selalu sama. Yang seorang ingin makan nasi dan kacang-kacangan dan kelewele (pisang goreng dari Ghana), sementara yang lain ingin makan spaghetti. Yang seorang ingin berlibur di pegunungan, sementara yang lain ingin berlibur di pantai. Yang seorang ingin pergi jalan-jalan di Hari Sabat sore, sementara yang lain ingin tidur siang. Yang seorang ingin memiliki tiga anak, sementara yang lain tidak ingin memiliki anak. Yang seorang harus tiba di gereja tepat waktu setiap Sabat, sementara yang lain tidak bisa tepat waktu.

Dengan semua tantangan ini, siapakah yang benar-benar dapat memiliki pernikahan yang bahagia? Apakah Allah membuat kesalahan? Apakah pernikahan itu terlalu sulit bagi manusia yang telah jatuh?

Hari ini kita akan berbicara tentang realitas dalam pernikahan dan hubungan lainnya yang sebagian besar kita sudah merasa akrab dengannya. Kami juga akan berbagi bagaimana kita dapat bergantung pada Allah untuk menjalaninya, dengan belajar bagaimana menjadi sabar, ramah, pengertian, dan memaafkan; memungkinkan kehadiran Allah mengerjakan keajaiban-keajaiban dalam pernikahan kita masing-masing setiap hari. Topik kita hari ini adalah: Mujizat dalam Pernikahan.

Ayat: Yohanes 2:1-10

Dalam kitab Kejadian, Allah digambarkan sebagai yang sedang berfirman kepada dunia. Allah mengucapkan firman dan hal-hal yang membuahkan hasil: langit, bumi, laut dan sungai-sungai; tanam-tanaman dan padang-padang rumput, burung-burung dan ikan-ikan, hewan-hewan dan manusia. Semua yang terlihat dan tidak terlihat, menjadi ada oleh firman Allah yang diucapkan.

Sesuatu yang disengaja setara dengan kata-kata pembukaan Kitab Kejadian, kitab Yohanes, menyajikan Allah sebagai firman keselamatan yang menjadi hidup. Kali ini firman Allah mengambil bentuk manusia dan masuk ke dalam sejarah dalam pribadi Yesus Kristus. Yesus mengucapkan firman itu dan realitas yang luar biasa muncul: pengampunan dan penghakiman, penyembuhan dan pencerahan, kebaikan dan rahmat, kebahagiaan dan kasih, kemerdekaan dan pemulihan. Semua yang telah hancur dan jatuh, jahat dan najis, dipanggil bagi keselamatan oleh firman yang diucapkan oleh Allah.

Oleh sebab itu, di berbagai tempat berbagai hal telah berjalan dengan sangat salah dan sangat membutuhkan perbaikan yang serius (Kitab Kejadian menceritakan kisah itu juga). Perbaikan aakan semua hal ini disadari oleh Firman  itu -- Yesus Kristus. Yesus, dalam kisah ini, bukan hanya mengucapkan firman Allah, tapi Dia adalah Firman Allah itu.

Dengan tetap berada di hadapan Firman ini, kita mulai menyadari bahwa kata-kata kita lebih bermakna daripada yang pernah kita akui. Mendeklarasikan "Saya percaya," misalnya, adalah perbedaan antara hidup dan mati. Kata-kata kita mendapatkan nilai dan arti dalam percakapan dengan Yesus. Bagi Yesus keselamatan itu tidaklah dipaksakan, melainkan Dia membawa keselamatan itu melalui percakapan yang tidak terburu-buru, hubungan intim, jawaban yang penuh rahmat, doa yang sungguh-sungguh, dan – secara kolektif -- melalui korban kematian-Nya di kayu salib. Kita jangan cepat-cepat menjauh dari kata-kata seperti ini. Dan untuk pelajaran kita hari ini, Firman itu ditemukan di tengah-tengah perayaan pernikahan pada pasal yang kedua dari kitab Yohanes. (The Message. 2002. NavPress).

Yohanes Pembaptis, sepupu Yesus, berdiri di tepi sungai Yordan berkhotbah dan membaptis dalam pasal satu. Ketika ia melihat Yesus datang ke arahnya, dia berhenti dan berseru, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!" (Yohanes 1:29) Pengakuan di dekat sungai ini membuat Yesus mendapatkan beberapa orang murid yang mengikuti-Nya kembali ke Galilea, ke tempat mukjizat pertama-Nya.

Firman ini datang dalam pribadi Yesus, yang datang untuk hidup di antara manusia dan mengalami hidup mereka sehingga mereka dapat mengalami keselamatan-Nya. Dia adalah Allah dalam daging, Immanuel, yang pada sebuah pesta pernikahan di Kana, bersama murid-murid baru-Nya -- salah satu dari mereka bernama Natanael, yang sebenarnya berasal dari Kana (Yohanes 21:2). Mungkin Yesus membawanya pulang agar ia dapat digunakan untuk membantu membawa keselamatan bagi keluarganya.

Kana berada sekitar tiga hari perjalanan dari sungai Yordan dan sangat dekat ke Nazaret, di mana Maria ibu Yesus hidup. Para sarjana menunjukkan pernikahan itu mungkin dari seorang kerabat Maria dan itulah alasan mengapa Yesus diundang, karena pelayanan-Nya kepada masyarakat baru saja dimulai dan Dia pun masih hampir tidak dikenal.

Pesta pernikahan di timur dekat sering berlangsung selama tujuh hari, cukup membuat beban keuangan kepada orang yang menyediakan makanan dan minuman. Ketika persediaan anggur habis -- tampaknya keluarga ini agak miskin -- Maria melibatkan diri untuk mencoba menyelamatkan muka keluarga dengan memanggil Yesus. Yesus hingga saat ini belum melakukan mujizat apapun. Tapi, Maria pasti sudah tahu, dalam menghadapi kemustahilan ini, Mesias yang dijanjikan itulah satu-satunya harapannya untuk membantu memecahkan dilema memalukan itu.

Menggunakan kesempatan ini untuk membiarkan ibunya tahu bahwa dia bukan lagi seorang anak lelaki kecil, atau di bawah wewenang gerak hatinya; lebih dari itu, oleh ingin memberi isyarat bahwa hidup-Nya sekarang semata-mata berada pada pengaturan dan arahan dari Allah Bapa, Yesus menjawab:  "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Sekarang, para ahli Perjanjian Baru memastikan pada para pembaca zaman modern, bahwa bahasa ini sama sekali bukan tidak menghormati Maria, melainkan mengajukannya sebagai suatu komunikasi sopan yang sangat umum di antara ibu dan anak yang sudah dewasa, sementara pernyataan: "Mau apakah engkau dari pada-Ku?" merupakan sebuah ekspresi umum dalam bahasa Yunani untuk menyampaikan hubungan yang ada sebelumnya antara dua individu yang telah berkembang ke tingkat yang baru.

Apa yang sangat penting yang sering disalahpahami dalam pembicaraan antara Yesus dan ibunya ini adalah bahwa tidak ada argumen yang muncul di antara mereka. Dengan tenang, rendah hati dan penuh kepastian dia berbicara kepada para pelayan -- mereka jelas mengenalnya sejak kunjungan sebelumnya ke rumah itu -- dan berkata: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu" (Yohanes 2:5).

Itu pastilah pernikahan orang Yahudi yang taat,  mengingat adanya enam tempayan air yang terbuat dari batu (masing-masing berisi 20 sampai 30 galon) yang digunakan untuk ritual penyucian Yahudi sebelum dan sesudah makan (Mat. 15:1-2). Yesus memerintahkan para pelayan untuk mengisi tempayan-tempayan itu dengan air, dan para pelayan itu mematuhinya, sampai penuh sekali. Yesus memerintahkan mereka untuk mencedok air itu dan membawanya ke pemimpin pesta untuk meminta persetujuannya. Pemimpin pesta itu sangat sibuk dalam pesta itu, tampaknya ia tidak tahu bahwa mereka telah kehabisan anggur, namun, ia sudah siap untuk mencicipi air anggur yang baru itu yang akan ditawarkan kepada para tamu.

Pemimpin pesta itu berhenti sejenak tidak lama setelah mengecapnya, lalu memanggil mempelai laki-laki dan berkata anggur yang terbaik, tidak seperti kebiasaan pada umumnya, tetap ada sampai saat yang terakhir. (Walvoord, et al., 1983-c1985).



Aplikasi

Pertanyaan hari ini, Saudara dan Saudari, adalah pelajaran apa yang kita temukan dalam kisah ini untuk menginformasikan bagaimana kita masing-masing dapat merundingkan pernikahan atau hubungan penting lainnya dalam cara yang lebih baik daripada yang kita miliki di masa lalu?

Apakah kita menikah atau menjalin hubungan penting lainnya tanpa menghitung biaya? Apakah kita kehabisan anggur kesabaran, pengampunan kebaikan, dan sukacita? Apakah kita menyadari pernikahan dan hubungan lainnya tidak hanya untuk memberikan kepada kita kenyamanan, persahabatan dan sukacita tetapi juga untuk memberikan kehormatan, pujian dan kemuliaan bagi Allah?

Meskipun mungkin telah sampai pada menit terakhir dari perencanaan, pasangan ini mengundang Yesus ke dalam pernikahan mereka, dan itu berarti ke dalam kehidupan mereka. Apakah kita mengundang Yesus ke dalam rumah kita dan ke dalam hubungan kita untuk mengatur lalu lintasnya dan melakukan mujizat?

Pasangan di Kana itu mungkin tidak tahu pentingnya memiliki Yesus pada pesta pernikahan mereka, tetapi seseorang yang tahu dan peduli terhadap mereka mengundang Yesus untuk hadir di tengah-tengah mereka.

Yesus menggunakan tempayan air yang telah tersedia di rumah mereka, sebuah simbol ketaatan kepada Allah. Apa yang kita sudah praktekkan di rumah tangga kita yang Yesus dapat gunakan untuk mengubah realitas hubungan pernikahan dan rumah tangga kita?

Tidak ada yang terlalu sulit bagi Tuhan. Dia dapat membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dia dapat mengubah kekosongan kita menjadi kelimpahan yang meluap. Jika kita membiarkan Yesus masuk ke dalam pernikahan dan rumah tangga kita, Ia dapat melakukan mujizat yang mengubah rasa malu dan rasa sakit dari kehidupan kita.

Jadi apa sajakah masalah-masalah dalam pernikahan kita yang kita tidak tahu bagaimana untuk menanganinya dan yang menyebabkan kita kehabisan kesabaran, pengampunan kebaikan, dan sukacita?

Dalam hal kebaikan Alkitab menyatakan tentang istri yang saleh dalam Amsal 31:26: "Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya." Kitab Suci juga menyatakan hal itu dalam 1 Korintus 13:4: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati. . . " Dan Efesus 4:32 menegaskan: "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu."

Tentang kesabaran Kitab Suci menyatakan dalam Yakobus 1:4: "Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun." Rasul Paulus mengumumkannya dalam 1 Timotius 6:11: "Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan." Dan kemudian dalam Roma 15:5: "Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus."

Pada pokok pengampunan, Kitab Suci mengumumkan dalam Matius 6:14, 15: "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Lalu Mazmur 86:5 menyatakan: "Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu." Dan ayat klasik dalam 1 Yohanes 1:9 menyatakan: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."

Berbicara tentang bagaimana kita harus bersikap satu sama lain dalam pernikahan dan dalam rumah tangga, Ellen White menyatakan dalam Rumah Tangga Advent, hal 421: "Kesopanan, bahkan dalam hal-hal kecil, haruslah dinyatakan oleh orang tua terhadap satu sama lain. Kebaikan yang menyeluruh harus menjadi hukum rumah tangga. Tidak ada bahasa kasar yang boleh dimanjakan, tidak ada kata-kata pahit yang boleh diucapkan."

Rekening Bank Emosional

Kita harus menyadari kebutuhan untuk menggunakan kebajikan dalam kitab suci dengan cara-cara yang praktis untuk merundingkan pernikahan setiap hari, dalam rangka untuk bertahan dan berkembang untuk menjadi berkat bagi anak-anak kita, bagi pasangan kita masing-masing, bagi masyarakat kita, gereja kita dan Allah kita.

Suatu keahlian yang banyak telah disadari, namun yang sering lupa untuk digunakan ketika kita membutuhkan keajaiban dari Yesus dalam pernikahan atau hubungan kita yang lainnya disebut Rekening Bank Emosional, digunakan oleh Dr Stephen Covey, dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People.

Hubungan Saudara dengan semua orang dan siapa saja adalah bagaikan rekening bank biasa. Sebagian besar dari kita, dalam kehidupan nyata, memiliki rekening bank. Yang pasti, sebagian dari kita memiliki banyak dalam rekening bank kita, dan banyak di antara kita memiliki sedikit di dalam rekening bank kita. Dalam banyak kasus, sejumlah rekening tersebut tekor dan kita membayar biaya penalti yang dapat membuat kita sakit.

Dalam setiap interaksi dengan setiap orang yang dengannya kita berurusan setiap hari dalam kehidupan kita, tiap-tiap kita melakukan penyetoran – yaitu penyetoran emosional dengan apa yang kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya, atau apa yang kita lakukan dan bagaimana kita melakukannya, atau kita membuat penarikan / pengambilan kembali secara emosional.

Ketika kita bersikap baik kepada pasangan kita, anak-anak, pimpinan, karyawan, anggota gereja ataupun sahabat kita, kita melakukan penyetoran emosional. Ketika kita menjadi orang yang sukar, kasar, tidak sabar, atau tidak setia, kita melakukan penarikan emosional.

Setiap hubungan -- pastinya setiap pernikahan, dan setiap jenis hubungan lainnya – mengalami penyetoran maupun penarikan emosional setiap hari dalam kehidupan kita. Sehingga, tergantung pada seberapa sering kita melakukan penyetoran atau penarikan, frekuensinya akan menentukan kelangsungan atau kurangnya keberlanjutan hubungan kita.

Ketika kita berkontribusi secara adil dalam beban tugas-tugas di rumah kita, suami atau istri kita mengalami setoran emosional. Ketika kita berperilaku dengan cara yang tidak meneguhkan hubungan, sebaliknya yang terjadi, dan pasangan kita, anak-anak kita, teman pria, teman wanita kita, pimpinan, sahabat atau karyawan kita mengalami suatu penarikan emosional. Semakin konsisten kita dalam melakukan setoran emosional ke dalam rekening bank emosional dari orang yang dengannya kita berhubungan, hubungan kita akan lebih kuat dan lebih sehat. Jika di sisi lain hampir semua yang kita lakukan dalam hubungan kita adalah penarikan emosional, sangat segera rekening bank emosional kita akan tekor karena kurangnya setoran emosional dan kita akan mengalami kebangkrutan dalam pernikahan atau hubungan kita masing-masing, karena perilaku kita telah menelan semua mata uang yang tersisa.

Kesimpulan

Setiap pernikahan mengalami masa-masa yang baik, dan setiap pernikahan juga memiliki masa-masa yang buruk. Hal ini juga berlaku bagi setiap hubungan yang kita miliki dalam kehidupan kita. Harapannya adalah bahwa Saudara akan memiliki pernikahan yang hebat dengan sedikit masa-masa yang menyedihkan, bukannya pernikahan yang mengerikan dengan sedikit masa-masa yang baik.

Sesungguhnya, Saudara dapat membuat keputusan saat ini, apapun jenis perkawinan (hubungan) yang akan Saudara miliki, itu semua tergantung pada Saudara. Suatu tempat yang baik untuk memulai adalah memilih untuk melakukan setoran harian ke dalam rekening bank emosional pasangan (sahabat) Saudara.

Namun, terlepas dari pilihan dan niat baik kita, kita tidak akan pernah mencapai tujuan kita, kita tidak akan pernah sukses, tanpa kuasa dan kasih karunia Yesus. Untuk memiliki sebuah pernikahan (hubungan) yang diisi dengan kesabaran, kebaikan, pengampunan, dan sukacita, kita membutuhkan kuasa dan kasih karunia Yesus setiap hari. Kenyataannya adalah, Saudara dan Saudari, kita memerlukan mujizat dalam pernikahan untuk mencapainya.

Yesus berjalan melalui Kana Galilea kita hari ini. Dan ketika Yesus datang, Dia membawa damai. Ketika Yesus datang, Dia membawa sukacita. Ketika Yesus datang, Dia membawa penyembuhan. Ketika Yesus datang, Dia membawa pengampunan. Ketika Yesus datang, Dia membawa mujizat untuk melengkapi defisit dalam setiap hubungan kita saat ini.

Marilah kita memutuskan hari ini untuk berjalan seperti Yesus; berbicara seperti Yesus; mengasihi seperti Yesus; mengampuni seperti Yesus; bersikap baik seperti Yesus; sabar seperti Yesus, untuk menjadi seperti Yesus. Kemudian kehancuran hidup kita akan diperbaiki, rasa sakit dalam hubungan kita akan menemukan penyembuhan; amarah dalam hubungan kita akan menemukan kedamaian, kesedihan dalam hubungan kita akan menemukan sukacita.

Marilah kita mengundang Yesus masuk ke dalam hati kita, rumah kita, dan hidup kita, dan kita akan mengalami mujizat dalam pernikahan setiap hari.

Semoga Allah memberkati kita untuk mencapai tujuan ini adalah doa kami.


Referensi

Covey, S. R. (1990).The 7 Habits of Highly Effective People. New York, NY: Simon & Schuster.

The Message (2002), NavPress.

Walvoord, J. F., Zuck, R. B., & Dallas Theological Seminary (1983-c1985), The Bible Knowledge commentary: An exposition of the scriptures. Victor Books: Wheaton, IL.

White, E. G. (1952), Rumah Tangga Advent, Hagerstown, MD: Review and Herald Publishing Association.