Jumat, 09 Maret 2012

7. SEKOP MENGUKUHKAN ALKITAB

7. SEKOP MENGUKUHKAN ALKITAB
 
 
Walaupun Alkitab menyatakan dirinya benar dari awal sampai akhir (Mzm 119 :160) ketepatannya menurut sejarah sudah sejak lama ditantang oleh mereka yang meragukan kebenaran.  Sebenarnya dalam dua ratus terakhir ini, kita telah lihat serangan kuat dan bertahan lama terhadap kekuasaan dan integritas Alkitab itu.  Serangan itu dilakikan dengan berkedok “Ilmu pengetahuan Sejarah”. Namun dalam dua abad yang sama kita telah mengalami kebenaran sejarah yang sangat dramatis mengenai Alkitab itu dan juga dengan   berkedok ilmu pengetahuan.  Dengan mengejutkan, juara kebenaran Allah yang paling mutakhir adalah alat yang tak diharapkan dan tidak ilmuah, yaitu sekop. Perkembangan yang mengejutkan itu telah memberi dorongan kepada seorang pengamat yang berkata.: “Aku percaya pada sekop itu.  Ia telah memberi makan suku-suku menusia. Ia telah menyediakan air, batu bara, besi, dan emas bagi mereka. Dan sekarang  Ia memberikan kebenaran bagi mereka. Dan sekarang ia memberiak kebenaran bagi mereka -- kebenaran sejarah – yang pertambangannya  belum pernah dibuka seperti sekarang ini”. (Oliver Wendel Holmes).
 
1          SANGGAHAN KRITIK ILMIAH YANG MODERN
 
Serangan modern terhadapo Alkitab dimulai tahun 1750 pada waktu paham Rasionalisme Eropa mulai melunak yaitu pada waktu sebelum Revolusi Perancis dimulai. Beberapa diantara tuntutan dari yang menamakandirinya “Kritik Tingkat Tinggi” itu adalah:
1.    Bahwa tokoh Alkitab seperti Abraham dan Yusuf itu hanyalah pahlawan legendaris atau dongeng belaka, serta tidak pernah terjadi dalam sejarah.
2.    Bahwa Alkitab itu ngawur, sebab ia menyamakan bangsa Het itu dengan kekuatan bangsa Mesir kuno. Orang Het, menurut kritik tersebut, hanya lah mempunyai kekuatan kelas dunia dibawah kekuatan Mesir.
3.    Bahwa buku Daniel tidak memberikan gambaran yang benar mengenai adat-istiadat atau sejarah Babel kuno; oleh karena itu, ia dianggap seabagai berita fiktif yang tidak setua kejadian yang sebenarnya.
4.    Bahwa Alkitab perjanjian baru tidak memberikan gambaran yang akurat mengenai Graeco-Roman poada abad pertama Tarikh masehi. Oleh karenaitu buku perjanjian baru itu hanya dibuat jauh lebih lama sesudah kejadian tersebut.
Seratus lima puluh tahun yang lalu agak sulit dan tidak mungkin menghadapi tuduhan seperti ini. Catatan sejarah yang layak dipercaya yang paralel dengan catatan Alkitab memang belum ada waktu itu.  Walaupun demikian, perkembangan ilmu arkeologi modern telah mengubah situasi secara dramatis. Kritik yang belum dewasa mulai dicabut satu persatu, dengan bantuan sekop tukang gali arkeologi dan kemampuan dari ahli yang menerjemahkan tulisan-tulisan kuno itu.
 
2          KELAHIRAN ARKEOLOGI – JUARA ALKITAB YANG TERAKHIR
 
Arkeologi - Pelajaran ilmu pengetahuan mengenai peninggalala zaman purba adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang paling muda usianya karena baru berumur 180 tahun. Ilmu ini dilahirkan di tanggul Sungai Nil pada tahun 1798, yaitu pada waktu Napoleon mengikutsertakan serombongan besar artis dan ilmuawan Perancis dalam tim ekspedisinya ke Mesir. Pada tahun tersebut dunia yang gelisah, ingin tahu, dan yang meodern sedang menghadapi dunia purba yang sudah layu namun masih agung dalam sejarahnya. Sahabat-sahabat Napoleon berdiri denga sangat ketakutan dihadapan mummi dan tugu yang menyambut mereka dari debu barang-barang purba tersebut. Jaru-jari mereka terasa gatal untuk mempreteli cerita tentang kebesaran Mesir yang sudah punah itu.
           
Bertahun-tahun berlalu sebelum mereka berhasil untuk menyimpulkan dan mereakit sisa-sisa yang sudah berserakan serta bisa membaca hasil penemuan mereka. Lalu demam benda-benda kuno pun mulai bangkit.l para ilmuwan dari Inggris, Jerman, dan Amerika  mulai berdatangan, dan lahirlah apoa yang kita namakan arkeologi modern.
 
3          KUNCI YANG MENYINGKAPKAN KEKAYAAN DUNIA PURBA
 
Kendala utama yang menghadang keberhassilan para arkeolog ialah masalah bahasa. Bahasa Mesir purba, Babel serta Persia tidak lagi digunakan sejak 2000 tahun yang lalu. Bahasa-bahasa tersebut adalah bahasa mati. Oleh karena itu, sebelum para ilmuwan modern dapat menjabarkan catatan mengenai dunia purba itu, mereka harus menemukan kunci dulu untuk membuka tabir bahasa yang telah dilupakan itu. Cerita tentang bagaimana kunci itu ditemukan merupakan satu kegembiraan tersendiri dalam memdalami arkeologi modern.
 
·         Kunci pertama ialah batu Rosetta terkenal, yang sekarang disimpan di museum Inggris.  Lempingan basal hitam ini dengan deretan tulisannya yang rapi, ditemukan di Rosetta, dekat muara bagian utara sungai Nil, oleh seorang  insinyur Perancisbernama Broussard, pada tahun 1799.  Tulisan  ini terdiri dari satu dekrit, yang diumumkan pada tahun 196 S.M., dan ditulis dalam tiga bahasa – tulisan gambar Mesir (hieroglyphics); tulisan Mesir biasa (demotic); dan tulisan Gerika (Yunani). Prasasti Gerika memberikan petunjuk kepada dua kesusastraan dan sejarah yang tak ternilai dari Firaun-firaun zaman dahulu.
·         Kunci kedua ialah Batu Behistun besar, yang terdapat di Kurdistan, Persila bagian utara, disebelah jalan purba dari Ecbatana ke Babel. Henly Rawilinson seorang perwira muda tentara Inggris yang bertugas di India, adalah penemu kunci ini. Berabad-abad lamanya para wisatawan sudah mengetahui pasasti yang istimewa ini, yang dipahat setinggi 200 kaki pada permukaan curam karang terjal raksasa, 1700 kaki tingginya dari dataran sekitarnya. Pada tahun 1835, Rawlinson, dengan risiko pribadi yang besar, memanjat permukaan terjal dari jurang itu dan mulai menyalin prasasti tersebut. Pekerjaan paling berbahaya dan sulit  ini memerlukan waktu empat bulan untuk menyalin prsasati itu, dan selamanya delapan belas tahun lagi untuk menguraikannya. Ternyata ini menjadi suatu proklamasi peringatan yang dibuat Darius Agung dari persia, dan dituliskan pada tahun 516 S.M. tiga bahasa digunakan bahasa persia Kuno, bahasa Elam, bahasa Babel.  Kunci ini hingga kini  membuka rahasia Cuneirorm tulisan Babel dan Assyria kuno yang berbentuk biji.
 
Setelah kunci-kunci ini ditemukan, serombongan besar para sarjana Eropa dan Amerika dengan keinginan yang amat besar mulai menyelidiki harta kesusastraan dunia purba yang sudah lama dilupakan.
 
4 – BAGAIMANA SEKOP ITU TELAH MEMPERKUAT ALKITAB
 
Tidak mungkin untuk melaporkan kemenagan-kemenangan arkeologis yang satu setengah abad lamanya dalam batas-batas dari satu penuntun penelitian yang singkat. Itu sebabnya kita akan memusatkan pikiran hanya pada beberapa penemuan khusus yang telah mematahkan keuatan kritikan atau kecaman yang disebutkan dalam bagian 1.
 
(1)        Orang Het Bangkit dari Kepunahan.
           
Alkitab menyinggung  tentang orang Het lebih dari empat puluh kali, dan disebut bahwa kekuatan negerinya sejajar dengan kekuatan Mesir. Tetapi hingga tahun 1860 catatan Alkitab berdiri teguh sebagai saksi atas kebesaran orang Het. Hal ini belum pernah disinggung dalam sumber sejarah. Hampir-hampir terluput dari buku sejarah hingga 150 tahun lalu seorang kritikus Alkitab mengatakan bahwa orang Het tidak pernah ada dalam sejarah.  Lalu dengan tulisan kuno dari Mesir dan Babel serta dengan riset yang dilakukan disekitar reruntuhan kota-kota orang Het di Asia kecil, maka kerajaan yang  sudah terlupakan  ini muncul ke permukaan.
           
Tidak kurang dari dua puluh kota orang-orang Het telah digali sejak tahun 1892, pada waktu mana Dr. A.H. Sayce menerbitkan buku berjudul: orang-orang Het – Cerita tentang kerajaan yang telupakan.  Buku karay Dr. O.R. Gurney yang terakhir berjudul orang-orang Het yang pertama terbit pada tahun 1952 memberikan keterangan lengkap mengenai kebangkitan bangsa purba ini. Banyak galian dan riset mengenai bangsa Het itu sehingga sekarang ada 20.000 loh batu mengenai bangsa Het terdapat di Museum Berlin saja.  Dari  penemuan yang menggembirakan ini kita mengetahui bahwa bangsa Het itu telah bangkit sebagai satu kerajaan terkuat poada zaman purba,  yang memerintah sebagian besar Asia kecil dan Siria serta mengimbangi kekuatan bangsa Siria dam Mesir, seperti yang diceritakan oleh Alkitab.
 
(2)        Penjelasan yang Menonjol dan Pengukuhan mengenai Buku Daniel.
 
Banyak batu bata yang diambil dari reruntuhan kota Babel purba itu dicap dengan  nama singkata Raja Nebukadnezar, dan hal ini menggemakan kesombongan pemimpin poerang, pembangun, raja yang berkuasa itu:  Bukan kah ini Babel yang besar itu, yang telah kubangun dengan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku?” (Dan 4:30).
 
Tulisan-tulisan Siria yang mendahului buku Daniel membuktikan bahsa “Dapur Api” dan “ Lubang Singa” adalah bentuk hukuman yang biasa dilakukan tehadap setiap orang yang melawan pemerintahan atau memberontak  (Dan 3 dan 6)
 
Penemuan “Batu Nabonidus yang berbentuk slinder” dikota Ur di Kasdim pada tahun 1854 dan openemuan lain yang serupa, telah memberikan identitas Raja Belsyazar, putra  dari Nabonidus sebagai putra mahkota pada waktu kejatuhan kota Babel. Kemudian pada tahun 1924  pemerintahan bersama dari Nabonidus dan putranya bernama Belsyazar yang sudah lama dipertanyakan oleh para cendikiawan telah dikonfirmasikan oleh media cetak “Laporan Kerajaan Persia” yang menyakatakn bahwa Nabonidus mempercayakan kepemimpinan kerajaan itu pada puteranya yang tertua (Dan5) Loh batu dengan tulisan Cuneiform (berbentuk pahat yang ditemukan dari reruntuhan Babel bertanggal antara tahun 595 dan 570 S.M. berisi daftar ransum makanan yang dibagi-bagikan pada tawanan orang Yahudi. Sebuah loh batu menyebut “Yoyakim, Raja Yehuda” telah mengkonfirmasikan tentang kesaksian Daniel yang mengatakan bahwa orang-orang  Yahudi memang tetawan di Babel.
 
(3)        Memperkuat Sejarah Baru
           
Sebuah kritik yang tidak bersahabat terhadap buku kisah segala rasul  menyatakan bahwa buku itu adalah “kertas Fitnahan yang paling buruk”. Orang yang berbuat poaling banyak untuk membenarkan fakta itu adalah orang cendikiawan Inggris bernama Sir William Mitchel Ramsay. Ia mulai penyelidikannya dengan penuh keyakinan dan semangat. Ramsay memutuskan untuk pergi ke Asia kecil dan berusahamenelusuri jejak Rasul Paulus dengan harapan bahwa ia akan menemukan buktu tentang kesalahan sejarawan perjajnuan baru tadi. ia sangat takjub menemukan bahwa tulisan Lukan itu benar. Lebih dalam Ramsay menyelidiki, lebih banyak bukti-bukti yang ia kumpulkan  sehingga Ramsay memutuskan untuk meninggalkan keragu-raguannya itu, dan setelah hampir setengah abad dalam penyelidikannya itu, dan membuat pengakuan sebagai berikut:
 
·         “Cerita tentang kunjungan Paulus ke kota Atena (kis 17) itu tidak pernah membuat langkah yang salah  diantara rincian yang begitu banyak.(Paulus, Pengembara dan Warga Negara Romawi, hlm. 238.)”
·         “saya menerima pendapat bahwa sejarah yang ditulis oleh Lukas itu sudah tidak bisa di tambah lagi karena sudah sempurna mengenai kelayakan nya untuk dipercayai. Anda bisa  menekan kata-kata Lukas itu melebihi sejarawan lain namun akan bisa bertahan walaupun mendapat perlakuan yang tidak wajar.
 
Kesaksian  lain yang amat baik mengenai ketepatan sejarah buku kisah segala rasul  itu  datang dari sarjana Dr. A.N. Sherwin – White dalam bukunya berjudul Masyarakat dan Hukum Romawi Dalam Perjanjuan Baru diterbitkan tahun 1963. Dr. White berkebangsaan Inggris, adalah ahli dalam sejarah Romawi dan Hukum Romawi, dan bukunya ditaburi dengan persesuaian  dengan  buku Kisah Segala Rasul seperti berikut ini:
·         “di Filipi dan pada waktu Paulus dihadapkan dipengadilan Romawi, buku kisah segala rasul mencatat peristiwa itu dengan tepat sekali (hlm 110).
·         “Dalam bagian buku itu yang menyinggung tentang petualangan Paulus di Asia kecil dan Yunani ia selalu waspada terhadap latar belakang Romawi da Helenostik.  Kerangka sejarah yang di utarakan itu tepat sekali. Tentang waktu dan tempat, rincian yang diberikannya amat tepat dan benar.
 
Untuk kisah para Rasul, pengukuhan kota bersejarah itu sangat menggembirakan......... setiap usaha untuk menolak dasar  kota sejarah itu, walaupun dalam masalah kecil, akan mengalami pertentangan. Pakar sejarah Romawi sudah percaya demikian sejak dulu.
 
Bukti bukti lainnya yang mengukuhkan kebenaran Alkitab.
 
BATU ROSETTA.
           
Pada bulan agustus tahun 1799 dalam kota kecil bernama Rashid (Rosetta) Di Delta Sungai Nil, Mesir, tentara Perancis yang sedang memperbaiki Benteng Santo Julien menemukan sebuah batu yang agak menarik perhatian, rata, dan berwarna kehitam-hitaman berukuran 72 cm x112 cm. Permukaannya yang datar penuh dengan tanda-tanda aneh dalam bahasa yang tidak dimengerti dan tak dapat dibaca oleh pekerja yang menemukannya.
           
Setelah para cendikiawan melihat batu itu mereka perhatikan bahwa tulisan itu dibagi tiga bagian. Sepertiga paling atas dipenuhi dengan tanda yang tidak dapat dibaca. Yaitu tulisan gambar (hieroglyphs) seperti dapat dilihat pada ratusan batu nisan kuburan dan kuil yang terdapat di Mesir. Bagian  yang kedua adalah tulisan Mesir untuk oran g biasa yaitu bentuk bahasa rakyat yang digunakan di Mesir antara tahun 600 S.M. sampai tahun 400 M.  Bagian ketiga adalah tulisan bahasa Yunani dan bisa dibaca oleh mehasiswa yang mempelajari bahasa itu.
           
Versi bahasa Yunani itu menyatakan bahwa inilah laporan tentang petualang dan poerbuatan Ptolemy V (Epiphanes) berumur belasan tahun yang menjadi Firaun pada tahun 196 S.M... para ahli itu secara benar menerka bahwa dua orang cendikiawan dari dua negara yan gberlainan untuk mengunggkapkan rahasia/tulisan yang telah dilupakan itu.
           
Pada waktu  Batu Rosetta ditemukan seorang anak bernama Jean Francois Champollion yang berusia sembilan tahun ita telah bercita-cita sejak kecil untuk bisa membaca tulisan gambar Mesir yang aneh itu.  Ia mengoleksi semua buku yang ia bisa dapat yang berhubungan dengan Mesir purba. Pada usia 21 tahun ia telah diangkat guru besar pada Universitas Grenoble dan pada waktu copu Batu Rosetta itu tersiar di Perancis, Champollion yang masih muda belia itulah orang yang pertama diseluruh Eropa untuk memeriksa tulisan itu.
 
BATU DARI MOAB.
 
Monumen purba bertulis ini juga dikenal dengan nama “Batu dari Mesha”, mempunyai makna tersendiri karena inilah satu-satunya tulisan kerajaan dalam bahasa Ibrani yang pernah ditemukan. Aslinya ditulis sekitar tahun 847 S.M. dan ditemukan setelah menjadi barang koleksi bangsa Arab Dibon sebelah Timur Laut Mati, oleh F.A Klein pada tahun 1868. keinginanyang menggebu-gebu dari orang barat untuk memiliki batu tersebut membuat orang Arab itu untuk membinasakan batu dengan cara membakarnya dalam api lalu menyiramnya dengan air sehingga pecah berkeping-keping. Masih beruntung oleh karena dengan membersihkannya dengan agak hati-hati dan merakitnya kembali maka batu itu sekarang sudah utuh kembali dan disimpan di Louvre, Paris. Monumen tersebut tingginya kira-kira 3 ½ kaki, lebar 2 kaki dan tebalnya 2 kaki. Tulisannya dengan huruf Fenesia yang juga digunakan oleh orang Ibrani poada zaman itu dan hanya sedikit berbeda dengan Alkitab bahasa Ibrani. Tulisan itu berisi hal-hal yang membanggakan bagi Mesha, Raja Moab, dimana dicatat pemberontakannya yang berhasil terhadap Omri raja Orang Israel  ayah dari Raja Ahab setelah bertahun-tahun dikalahkan dan patuh. (2 raja-raja 3:4,5)
 
PENEMUAN GULUNGAN LAUT MATI
 
Tidak ada penemuan arkeologi pada abad ini yang begitu menggemparkan selain dari penemuan”GULUNGAN LAUT MATI” pada tahun 1947 dan pada tahun-tahun berikutnya. Dr. W. F Albright telah menjelaskan penemuan itu sebagai penemuan naskah terbesar pada segala zaman.
 
Penemuan itu dimulai pada suatu pagi musim semi pada tahun 1947 pada waktu tiga orang pengembala kambing berkebangsaan Arab memasuki sebuah gua yang baru dibuka pada suatu bukit kecil di dekat padang pasir di Ain Feshka, dekat khirbet Quamran dan bersebelahan dengan ujung Barat Laut dari Laut Mati di Palestina. Di dalam gua itu mereka menemukan bagian dari “GULUNGAN” yang sudah lama disembunyikan. Penemuan yang pertama ini telah menimbulakn perburuan harta karun di daerah itu dan pada tahun tahun berikutnya, 400 gua telah dieksplorasi dan ratusan naskah dan bagian-bagianya telah ditemukan. Banyak dari antaranya adalah bagian bagian Alkitab sedangkan lainnya adalah naskah-naskah non Alkitab kuno.
 
Yang sangat menakjubkan dan menggembirakan hati ialah bahwa ayat ayat Alkitab Perjanjian Lama yang dituls dengan tangan dan sangat kuni ini terdapat juga dalam peneumuan ini yang mneurut pakar telah ditulis pada abat pertaman S.M.  Hal ini dapat diterima bahwa banyak dari gulungan naskah itu disembunyikan oelh orang Yahudi di gua-gua pada abat pertama Tarikh Masehi, khususnya oelh anggota sekte yang dikenal dengan nama “ESSENES” pada masa pergolakan yang menuju kea rah kebinasaan kota Yerusalem oleh tentara Romawi pada tahun 70 M.
 
Yang menjadi puncak perhatian dalam penemuan ini ialah “ GULUNGAN BUKU YESAYA” ditulis dalam huruf-huruf Ibrani dari abat pertama S. M. Sudah tentu, pengetahuan umum kita mengenai zaman Alkitab dan peristiwa peristiwa Alkitab telah diperkaya oleh Gulungan Laut Mati, tetapi sumbagnan utama dari penemuan itu ialah pembuktian ketepatan dalam menyalin ayat-ayat Perjanjian Lama dalan bahwa Ibrani dan diteruskan pada keta selteah ribuan tahun lebih. Untuk contoh, sekalipun banyak tangan dalam menyalin ayat-ayat itu dalam kurun waktu berabad-abad lamanya, ayat-ayat Alkitab buku Yesaya berbahas Ibrani yang digunakan dewasa ini sangat cocok dan tidak berbeda dengan naskah gulungan buku Yesaya yang ditemukan itu.
 
Kesimpulan  
 
Satu pelajaran yang besar dan berarti yang kita peroleh melalui pelajaran arkeologi Alkitab itu ialah ketepatan waktu yang menkjubkan yang digunakan Allah untuk mengukur semua pergerakan-Nya.  Satu era yang disebut “kritik  ilmiah” terhadap Alkitab dimulai pada tahun 1750 M.  Era arkeologi modern dimulai pada tahun 1800 M. Begitu  muncul penyakit kritik itu, Allah memberikan obat penawarnya. Untuk menghadapi pertentangan yang rumit dalam zaman yang ilmiah ini, ia sudah menyediakan kenyataan-kenyataan dan bukti kebenaran firman-Nya, yang kekuatannya dan relevansinya semakin bertambah setiap tahun.
 

Bersambung..... II. KEJATUHAN DAN PEMULIHAN MANUSIA

1. KEMURTATAN IBLIS

Dari manakah asal dosa? Dapatkah itu dilarang? Menapa dosa ada sekarang? Masing-masing pertanyaan ini dapat dijawab. Tidak perlu bingung. Apa yang dikatakan Alkitab?
 
1.    Apakah Allah yang menjadikan setan? Jawab: Tidak ada tulisan Alkitab yang menunjukkan Allah menjadikan setan. Semua yang diciptakan Allah adalah baik dan sempurna (Baca Kejadian 1:31).
 
2.    Siapa yang dijadikan Allah? Jawab: “Engkau tidak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangn padamu.” Yehezkiel 28:15.
 
Catatan: Dalam fasal ini Pangeran Tirus menggambarkan Lusifer. Ini adalah nubuatan dari raja Tirus secara harafiah, tatapi jika dibaca dengan teliti ini mempunyai arti yang lebih luas karena kesimpulan tertentu seperti “engkau di taman Eden, yaitu taman Allah.” Yehezkiel 28:13.
 
3.    Apa jabatan Lusifer sebelum ia berdosa? Jawab: “Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga.” Yehezkiel 28:14, bagian pertama. Dia disebut “kerub yang berjaga” dalam ayat 16. Karena jabatannya dekat ke takta Allah tampanya ia menjadi pemimpin para malaikat.
 
4.    Bagaimana Lusifer menjadi setan? Jawab: “Wngkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kau musnahkan demi semarakmu.” Yehezkiel 28:17, bagian pertama. “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putra Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan hendak menyamai Yang Mahatinggi! Yesaya 14:12-14.
 
Catatan: Di sini Iblis digambarkan di bawah ….. Raja Baebel. Sebagaimana Allah adalah raja di belakang takhta Israel, demikian juga Iblis adalah raja di belakang takhta penyembah berhala Tirus dan Babel dan kadang-kadang bangsa-bangsa dan pemimpin-pemimpin ini memantulkan sifat-sifat Iblis.
 
5.    Apa yang dilakukan kemurtadan Iblis? Jawab: “Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikanya berperang melawan naga (setan) itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya.” Wahyu 12:7.
Jawab: “Tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Setan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikanya.” Wahyu 12:8,9. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan Yesus, Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.” Lukas 10:18.
 
6.    Di mana setan itu sekarang? Jawab: “Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! Karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat.” Wahyu 12:12.
 

KESIMPULAN

            Pertikaian antara Kristus dan Iblis terus di dunia ini. Setan itu terutama marah kepada orang yang berusaha memelihara hukum-hukum Allah (Wahyu 12:17). Sebabnya karena orang-orang yang memelihara hukum itu akan memasuki kerajaan Allah dan hidup selam-lamanya (Wahyu 22:14). Karena Iblis adalah “Pembohong” dan “Pembunuh” (Yohanes 8:44) tidak selamat mengikuti anjuran-anjurannya. Oleh karena itu marilah kita tentukan untuk memperhatikan dan menurut perintah Kristus: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu.” Yohanes 14:15. “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu , bahwa kita menuruti perintah-perintahNya. PerintahNya itu tidak berat.” 1 Yohanes 5:2-3.
 
2. BAGAIMANA MANUSIA BERDOSA
 
            Dosa timbul ketika Lusifer dan malaikat-malaikatnya meninggalkan kesetiaan mereka kepada Allah. Ketika mereka diusir dari sorga (Wahyu 12:9). Iblis memikirkan rencana supaya manusia mengikuti dia. Inilah yang disebut pertentangan andta Kristus dan Iblis. Keduanya mencari para pengikutnya.
 
7.    Apa yang dilakukan ular itu di taman Eden di mana manusia berada? Jawab: “Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan olehTuhan allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?’ Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ‘Buah pohon-pohon dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: ‘Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.’ Tetapi ular itu berkata kepada permpuan itu: ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati.’” Kejadian 3:1-4. Catatan: Ular itu adalah perantara yang oleh Iblis menarik perhatian Hawa. Tidak kuat kebenaran itu dipengang. Dia tahu mereka dapat memakan buah pohon-pohon itu tetapi ia coba membuatnya Allah melarangnya. Ketika Hawa mengatakan kepadanya bahwa hanya buah pohon yang di tengah-tengah taman itu yang tidak boleh mereka makan atau peang supaya mereka tidak mati kemudian Iblis membantah dan mengatakan dusta, “Sekali-kali kamu tidak akan mati”.
 
8.    Siapa yang dipercayai Adam dan Hawa, Allah atau ular? Jawab: “Permpuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia menambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Kejadian 3:6.
 
9.    Karena Adam berdosa bagaimana dosa ini mempengaruhi umat manusia? Jawab: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah mau itu menjalar kepada semua orang, karena semua orang berbuat dosa.” Roma 5:12. Baca Roma 3:23; I Korintus 15:22, bagian pertama.
 
10.  Apakah dosa itu? Jawab: “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” 1 Yohanes 3:4. Baca Roma 4:15. Hukum Allah menolong kita untuk mengetahui apakah dosa (Roma 3:20, bagian terakhir).
 

KESIMPULAN

 
            Pendurhakaan kepada perintah Allah adalah dosa di Taman Eden. Prinsip yang sama tetap berlaku pada hari ini. Namun, orang tidak perlu terus mendurhaka dan berdosa. Kapan saja orang berdosa ia membuat pilihan. Baca Yosua 24:15.

Rabu, 07 Maret 2012

MEMPERCAYAI FIRMAN BUKAN PERASAAN

76
“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain” (Kolose 3:16).
 
Firman Allah adalah fondasi iman kita, dan oleh sebab itu, dari Firman Tuhan itulah kita bisa memperoleh bukti tentang sikap kita di hadapan Allah. Kita tidak boleh membuat perasaan kita sebagai suatu ujian untuk melihat apakah kita disukai atau tidak oleh Allah, entah perasaan itu kita anggap mendorong atau tidak. Segera setelah kita mulai merenungkan perasaan, maka kita berada di tempat yang berbahaya. Jika kita merasa senang, maka kita yakin bahwa kita berada dalam kondisi yang disukai, tetapi ketika perubahan tiba, karena demikianlah akan terjadi, keadaan menjadi terbentuk sehingga perasaan depresi akan membuat hati sedih, kemudian kita akan secara alamiah dituntun untuk meragukan bahwa Allah telah menerima kita....
 
Setan tidak akan lambat menyampaikan saran dan kesulitan kepada jiwa yang bertobat agar memperlemah iman dan menghancurkan keberanian hati. Ia memiliki berbagai jenis godaan yang bisa ia jejalkan sekaligus ke dalam pikiran, dan memberikan jalan kepada perasaan mereka, atau mereka akan segera menyenangkan tamu jahat itu, ragu, dan menjadi terjerat dalam kebimbangan keputusasaan....
 
Jangan agungkan perasaanmu, jangan digoyahkan olehnya, entah itu baik, jelek, sedih, atau senang.... Firman Allah sajalah yang menjadi jaminanmu.... Ada peperangan di mana setiap jiwa harus terlibat yang ingin memiliki mahkota kehidupan. Inci demi inci pemenang harus berjuang mempertahankan iman, menggunakan senjata Firman Allah. Kita harus menghadapi musuh dengan “Ada tertulis.”...
 
Ketika musuh mulai menarik pikiran menjauhi Yesus, menjauhi kemurahan- Nya, kasih-Nya, kuasa-Nya, jangan menghabiskan waktu berharga untuk mempertimbangkan perasaan-perasaanmu, tetapi berlarilah kepada Firman. Dalam Kitab Suci, Kristus dihadirkan sebagai Dia yang bersama Allah menjadikan dunia. Ia adalah Terang dunia, dan tatkala kita para pencari terang mempelajari Firman, kita menemukan penerangan surgawi....
 
Apakah yang kita ingin capai dengan mengharapkan seluruh dunia bertobat kepada Yesus dengan mempercayai kasih-Nya yang mengampuni, padahal kita sendiri tidak mempercayai kasih-Nya? Bagaimanakah mungkin kita menuntun orang lain kepada keyakinan yang penuh, iman kepada Bapa surgawi kita, sementara kita mengukur dan menilai kasih kita kepada Dia dengan perasaan-perasaan kita? —Signs of the Times, 3 Des. 1894.

APA YANG TUHAN NILAI

“Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan” (Amsal 11:24).
 
Pengalaman menunjukkan bahwa roh memberi itu lebih sering ditemukan pada mereka yang memiliki harta terbatas daripada orang-orang yang lebih kaya. Sumbangan paling murah hati untuk pekerjaan Allah atau membantu yang memerlukan berasal dari kantong orang miskin, sementara banyak orang yang kepadanya Tuhan telah percayakan berlimpah untuk maksud ini tidak melihat perlunya memberi dukungan untuk memajukan kebenaran, dan tidak mendengar seruan orang miskin di tengah mereka....
 
Pemberian si miskin, buah dari penyangkalan diri untuk menyampaikan terang kebenaran, merupakan bau-bauan yang harum di hadapan Allah. Dan setiap perbuatan pengorbanan diri demi orang lain akan memperkuat roh bermurah hati dalam hati si pemberi, menyatukan si pemberi lebih dekat dengan Penebus dunia, yang adalah “kaya, namun demi kamu Ia menjadi miskin, agar melalui kemiskinan-Nya engkau bisa menjadi kaya.”
 
Jumlah yang kecil yang diberikan dengan senang hati sebagai hasil penyangkalan diri lebih bernilai bagi Allah daripada persembahan mereka yang dapat memberi ribuan namun tidak merasa kekurangan. Janda miskin yang memasukkan dua keping logam ke dalam perbendaharaan Tuhan memperlihatkan kasih, iman, dan kemurahan hati. Ia memberikan segala yang dipunyainya, mempercayakan pemeliharaan Allah untuk masa depan yang tak menentu. Pemberiannya yang sedikit, dinilai Juruselamat sebagai pemberian terbesar hari itu dalam perbendaharaan. Nilainya diukur bukan dengan nilai koinnya, tetapi dengan kemurnian motifnya untuk berkorban.
 
Pemberian si janda itu seperti sebuah aliran air kecil mengalir sepanjang zaman, dalam perjalanannya semakin melebar dan semakin dalam, dan terbagi-bagi dalam ribuan arah memperluas kebenaran dan membantu yang membutuhkan. Pengaruh pemberian kecil itu telah beraksi dan bereaksi terhadap ribuan hati di segala zaman dan di setiap negara di atas bumi. Hasilnya, pemberian-pemberian yang tak terhitung jumlahnya telah mengalir ke dalam perbendaharaan Tuhan dari orang miskin yang murah hati dan menyangkal diri. Dan sekali lagi, teladannya telah merangsang ribuan orang yang tadinya ragu-ragu, mementingkan diri menjadi melakukan pekerjaan baik dan pemberian mereka juga telah menambah nilai persembahannya.
 
Kemurahan adalah satu tugas yang tidak boleh diabaikan.... Untuk menanamkan roh bermurah hati di dalam kita, maka Tuhan menyuruh kita memberi dan mempersembahkan. —Review and Herald, 9 Feb. 1886.

SUKACITA MEMAJUKAN PEKERJAAN TUHAN

“Ya TUHAN, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakanini untuk mendirikan bagi-Mu rumah bagi nama-Mu yang kudus adalah dari tangan-Mu sendiri dan punya-Mulah segala-galanya” (1 Tawarikh 29:16).
 
Dalam membangun Bait Suci, ajakan untuk menyumbang mendapat tanggapan yang sungguh-sungguh. Mereka menyumbangkan lebih dari cukup untuk maksud itu. Daud memuji Tuhan di hadapan rakyatnya, dan berkata, “Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.”...
 
Daud mengetahui betul dari siapa semua karunianya. Kalau saja mereka yang bersukacita dalam kasih Juruselamat di zaman ini dapat menyadari bahwa perak dan emas adalah milik Tuhan, dan harus digunakan untuk kemuliaan- Nya, bukan menahannya untuk memperkaya dan memuaskan diri mereka. Ia memiliki hak yang tak dapat disangkal terhadap segala sesuatu yang dipinjamkan- Nya kepada ciptaan-Nya. Semua yang mereka miliki adalah milik-Nya.
 
Ada maksud-maksud agung dan suci yang memerlukan harta; jadi kalau diinvestasikan, akan memberikan sukacita yang lebih tinggi dan menetap kepada si pemberi daripada bila digunakan untuk kepuasan diri atau menumpuknya untuk maksud yang tamak....
 
 Dengan cinta diri banyak menahan hartanya dan menenangkan hati nuraninya dengan rencana melakukan hal besar bagi pekerjaan Allah setelah kematian mereka. Mereka membuat wasiat menyumbangkan sejumlah besar kepada gereja dan berbagai kepentingannya, dan kemudian menenangkan diri dengan perasaan bahwa mereka telah melakukan yang diwajibkan dari mereka. Dalam hal apakah mereka menyangkal diri dengan perbuatan ini? Sebaliknya, mereka justru memperlihatkan kecintaan diri mereka. Ketika mereka tidak lagi memerlukan uang mereka, maka mereka bermaksud memberikannya kepada Allah. Tetapi mereka akan menahannya selama mereka bisa, sampai mereka tergerak untuk melepaskannya oleh seorang utusan yang tidak bisa ditolak.
 
Allah telah menjadikan kita semua para penatalayan-Nya, dan ini tidak memberikan kita hak untuk mengabaikan tugas kita atau membiarkan orang lain yang melakukannya.... Jika kita biarkan orang lain mencapai apa yang Allah telah percayakan kepada kita, maka kita bersalah kepada diri sendiri dan kepada Dia yang telah memberikan segala sesuatu yang kita miliki... dalam hal ini Allah ingin semua menjadi wali wasiat mereka sendiri selama masa hidupnya. —Review and Herald, 17 Okt. 1882.

KEBEBASAN DAN KASIH TERHADAP PEKERJAAN TUHAN

“Tidak usah lagi ada orang laki-laki atau perempuan yang membuat sesuatu menjadi persembahan khusus bagi tempat kudus.” Demikianlah rakyat itudicegah membawa persembahan lagi” (Keluaran 36:6).
 
Di bawah sistem Yahudi, masyarakat diwajibkan membiasakan roh bermurah hati, baik memelihara pekerjaan Allah maupun menyediakan bagi kaum yang lemah. Pada tuaian dan hasil panen pertama, buah-buah sulung di ladang-ladang (jagung, anggur, dan minyak) harus diserahkan sebagai persembahan bagi Tuhan. Berkas sisa-sisa di ladang disediakan bagi orang miskin. Hasil pertama dari wol ketika domba dicukur, dari padi ketika gandum diirik, harus diberikan kepada Tuhan; dan pada perayaan diperintahkan agar orang miskin, janda, yatim piatu, dan orang asing harus diundang. Pada penutupan setiap tahunnya semua diwajibkan untuk memberikan sumpah khidmat apakah mereka sudah melakukan sesuai dengan perintah Allah atau tidak.
 
Pengaturan ini dibuat Tuhan untuk mengajarkan kepada bangsa itu bahwa dalam segala hal Ia harus dijadikan yang utama. Oleh sistem pendermaan ini mereka diingatkan bahwa Tuhan mereka yang Pemurah adalah Pemilik sesungguhnya atas ladang mereka, ternak mereka, bahwa Allah di surga mengirimkan matahari dan hujan untuk menanam benih dan menuai, dan bahwa segala sesuatu yang mereka miliki adalah dari ciptaan-Nya. Segalanya milik Tuhan, dan Ia telah menjadikan mereka para penatalayan harta benda-Nya.
 
Kemurahan bangsa Yahudi dalam mendirikan Bait Suci menunjukkan dengan jelas kebajikan tak sebanding dengan umat Allah di masa-masa berikutnya. Bangsa Ibrani baru saja dibebaskan dari perbudakan panjang di Mesir, mereka mengembara di padang belantara; namun belum lagi mereka lepas dari tentara Mesir yang mengejar mereka dalam perjalanan yang terburu-buru, ketika sabda Tuhan datang kepada Musa, “Berbicaralah kepada anak-anak Israel, agar mereka membawakan persembahan kepada-Ku: terimalah persembahan dari setiap orang yang memberinya dengan tulus ikhlas.”...
 
Semua memberi dengan ikhlas, bukan sejumlah tertentu dari bunga mereka, tetapi sebagian besar dari harta milik mereka. Mereka memberikannya dengan senang hati dan tulus kepada Tuhan. Mereka menghormati Dia dengan melakukannya. Bukankah itu semua milik-Nya? Bukankah Ia yang memberikan kepada mereka semua yang mereka miliki? Jika Ia menyuruhnya, bukankah tugas mereka untuk mengembalikan apa yang Ia sendiri telah pinjamkan? Tidak perlu pemaksaan. Orang-orang membawa bahkan lebih dari yang diperlukan; dan mereka diberitahu untuk berhenti, karena sudah berlebihan. —Review and Herald, 17 Okt. 1882.

BERIKAN KEPADA TUHAN HARTA MILIKNYA

“Sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya” (Mazmur 50:12).
 
Akhir segala sesuatu sudah dekat, dan usaha bagi keselamatan jiwa-jiwa harus dilakukan dengan cepat. Karena alasan ini kita mendirikan institusi-institusi untuk penyebaran kebenaran melalui media cetak, untuk pendidikan kaum muda, dan untuk pemulihan orang sakit. Tetapi mereka yang mementingkan diri dan mencintai uang bertanya, “Apakah gunanya semua ini, kalau waktu begitu singkat? Bukankah bertentangan dengan iman kita, menghabiskan banyak biaya membangun percetakan, sekolah, dan institusi kesehatan?” Kita bertanya untuk menjawabnya: Jika waktu berlanjut beberapa tahun, mengapa menginvestasikan banyak biaya membangun rumah dan perkebunan, atau untuk penampilan mewah dan tak penting, sementara sedikit uang diberikan kepada usaha mempersiapkan diri pada peristiwa besar di hadapan kita?...
 
Dengan berkat Allah, kekuatan media cetak tidak bisa dianggap remeh.....Biarlah percetakan-percetakan dipertahankan, dan pekabaran kebenaran dikirimkan ke seluruh bangsa di atas bumi ini.
 
Sekolah-sekolah telah didirikan agar kaum muda dan anak-anak kita dapat menerima pendidikan dan disiplin yang diperlukan dalam mempersiapkan mereka segera untuk mencari jiwa-jiwa. Di sekolah-sekolah ini Kitab Suci harus tujuan utama dari pembelajaran. Perhatian harus diberikan kepada perkembangan moral dan kekuatan intelektual. Kita berharap agar di sekolah-sekolah ini banyak dipersiapkan pekerja sungguh-sungguh yang membawa terang kepada mereka yang duduk dalam kegelapan.
 
Dalam lembaga kesehatan kita menyediakan suatu tempat di mana orang sakit dapat menikmati manfaat obat alamiah, gantinya bergantung pada obatobatan mematikan. Dan banyak dari mereka yang menemukan kelegaan, akan siap berserah pada pengaruh kebenaran....
 
Kekayaan merupakan berkat besar jika digunakan sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi hati yang mementingkan diri dapat membuat kekayaan jadikutukan berat.... Mereka yang memperoleh sukacita yang paling nyata dalam kehidupan ini adalah mereka yang menggunakan karunia Allah dan tidak menyalahgunakannya....
 
Allah adalah pemilik alam semesta yang benar. Segala sesuatu adalah milik-Nya. Setiap berkat yang pria dan wanita nikmati adalah hasil kemurahan Ilahi.... Ia dengan adil meminta kita mengabdikan kepada Dia, hasil pertama dan terbaik yang Ia telah percayakan pada kita. Jika kita mengakui kekuasaandan pemeliharaan-Nya yang penuh kemurahan dengan cara seperti itu, maka Ia berjanji akan memberkati sisanya. —Review and Herald, 16 Mei 1882.