Kamis, 23 Februari 2012

Memberi Kebiasaan yang Lahir dari Kasih

Hendaklah kamu masing-masing-sesuai dengan apa yang kamu peroleh-menyisihkan sesuatu dan menyimpannya dirumah" (1 Korintus 16:2).

Memberi adalah bagian dari agama Injil. Fondasi rencana keselamatan dibuat dalam pengorbanan. Yesus meninggalkan istana surga dan menjadi miskin, agar melalui kemiskinan-Nya kita dapat dijadikan kaya. Kehidupan-Nya di dunia ini tidak mementingkan diri, ditandai dengan kerendahan hati dan pengorbanan. Dan apakah seorang hamba lebih besar daripada Tuannya? Akankah kita, yang turut serta dalam keselamatan besar yang ditempa-Nya bagi kita, menolak untuk mengikuti Tuhan kita, dan turut dalam penyangkalan diri-Nya? Ketika Penebus dunia telah menderita untuk kita, akankah kita, anggota tubuh-Nya, hidup dalam kesenangan diri yang bodohTidak; penyangkalan diri adalah kondisi yang esensial pada pemuridan....

Kristus, sebagai Kepala kita, menuntun dalam pekerjaan besar keselamatan, tetapi la telah mempercayakan pekerjaan itu kepada para pengikut-Nya di atas dunia. Itu tidak dapat dijalankan tanpa alat, dan la telah memberi-kan kepada umat-Nya rencana mendapatkan alat yang cukup untuk membuat pekerjaan-Nya berhasil. Sistem persepuluhan, yang ditetapkan untuk maksud ini, sudah dilakukan mulai zaman Musa. Bahkan sejak zaman Adam, jauh sebelum sistem yang pasti diberikan, manusia diharuskan menyerahkan pemberian kepada Allah untuk maksud-maksud keagamaan....

Allah tidak memaksa kita untuk memberi kepada pekerjaan-Nya. Per-buatan kita harus ikhlas. la tidak ingin perbendaharaan-Nya diisi dengan persembahan-persembahan yang tidak ikhlas. Rancangan-Nya dalam rencana pemberian yang sistematis akan membawa kita ke dalam hubungan erat dengan Pencipta kita dan dalam simpati dan kasih dengan sesama kita manusia, dengan demikian menempatkan kita pada tanggung jawab yang akan meniadakan kecintaan diri dan memperkuat gerakan hati yang dermawan tanpa kepentingan. Kita cenderung cinta diri dan menutup hati kepada perbuatan kemurahan. Dengan mewajibkan pemberian dilakukan pada waktu-waktu yang ditetapkan, Tuhan merancang agar memberi itu menjadi sebuah kebiasaan dan dipandang sebagai tugas orang Kristen. Hati, yang terbuka oleh satu pemberian, tidak memiliki waktu untuk tertutup dan menjadi dingin, sebelum persembahan lain diberikan....

Setiap pria, wanita, dan anak dapat menjadi penatalayan bagi Tuhan.... la telah menetapkan perlunya kerja sama di tengah umat-Nya, agar mereka dapat memelihara dan melatih cinta kasih yang penuh kebajikan. —Signs of the Times. 18 Maret 1886.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar